Haruskah?

iya…haruskah mereka menangis tersedu sedan karena tidak bisa menjadi idola. Hanya karena sakit lalu menjadi parau suaranya, dan tereliminasi karena kemampuan menyanyi buruk ketika menyanyikan beberapa lagu dari band Ungu, Rossa, Ari Lasso, Sheila On 7, PeterPan. Atau pula dengan kelakuan wannabe rock stars mereka, memakai kacamata ala Ian Kasela, rantai pengikat, dan rambut ala monas, mereka terlihat sedang menipu diri sendiri menjadi orang lain dan melompat melewati sebuah proses kehidupan yang jauh dari apa yang mereka belum melewatinya.

Ironis dan betapa teganya kita tertawa melihat mereka seperti itu. Kejahatan apa yang sedang kita perbuat terhadap generasi cilik ini. Kita mengkarbit mereka dengan cinta-cinta muluk lampiran tiap lirik lagu. Kemana kita akhir pekan…yah, "naik delman disamping pak kusir yang sedang bekerja saja"…atau, "naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali"…kamu punya binatang peliharaan?, kamu kasih nama siapa?. namanya Helli..guk-guk, si anjing menyalak girang.

Lagu-lagu indah berirama riang itu yang mengiringi kepolosan kita pada masa lalu, sampai kini dan begitu dekat dengan dunia kanak kita. Lirik polos yang selalu ada dibenak kekanak-kanakan kita, yang selalu ingin tahu isi dunia ini, yang selalu ingin bermain selama mungkin lalu menggali sesuatu karena sifat kanak kita yang polos. Tapi kemana semua, berganti dengan…"wo’o, kamu ketahuan…pacaran lagi".

Bukan ingin langsung menunjuk jari telunjuk ini dengan telak ke sebuah program acara televisi, tapi itulah yang nyata saat ini. Tidak hanya satu, tapi sudah ada beberapa. salah satunya yang sedang meroket acaranya adalah IDOLA CILIK. Jingkrak, lenggak-lenggok, teriak mereka, seperti buah yang matang sebelum waktunya. Tertawa, sedih, dan harap cemas orang tua melihat tingkah polah mereka sedang berada dipanggung, takut tereliminasi karena lagu cinta orang dewasa. Sang juri siap memberi komentar pedas nan menghibur pemirsa, lalu memberi petuah-petuah if he/she wannabe being the real idol. Penonton yang notabene baru pulang sekolah, langsung pindahkan channel TV nya atau langsung menonton di studio.

Seperti apa kita yang menonton acara seperti ini, haruskah kita bersimpati dan berempati karena menyoroti kekalahan mereka. Bukan itu kawan yang harus kita buat, tapi kita harus prihatin dengan para buah yang matang sebelum waktunya. Tidakkah kita bersedih dan merasa terpuruk hati kita. Lalu lunglai lemas tidak bisa menyelamatkan mereka berpolah layak idola dewasa mereka, mereka hilang akan identitas, mereka dihapuskan jiwanya hanya karena keuntungan. Kusut masai sudah seperti ini, menjadi buntelan benang kusut yang menggelinding liar yang arahnya terjun bebas dari sebuah meja apik.

Lalu apa kata pembuat program dan yang diuntungkan dari acara ini, biasanya pihak televisi. Lagi-lagi dengan ceracaunya…"kalau tidak suka dengan acaranya, ya tinggal ganti channelnya saja". Hah, keparat macam apa yang seenaknya bisa berkata seperti itu. Kau ini sedang mencetak apa?!.

Apa yang dibenak para idola cilik ini membayangkan…"Biarlah ku rela melepas mu, meninggalkan aku…", "Otak mu seksi, itu terbukti dari caramu memikirkan aku", atau "cuma kamu yang bisa membuat ku menjerit ".Kita membunuh jiwa mereka. Haruskah mereka dicium bibir, pipinya terlebih dahulu. Atau yang lebih ekstrim kita mendidik mereka untuk berpacara sebelum usianya. Maka kita memasukkan unsur seks dalam kehdupan mereka tanpa disadari oleh kita. Bisakah kita menyebut ini juga bahaya laten, lebih parah dari penghapusan sejarah, dan pembakaran buku-buku yang dilakukan beberapa rezim orde di republik keparat ini. Dimana nurani kita melihat itu!. Hentikan atau kita melahirkan para monster-monster kecil.

Apa yang di benak kita?

One Response to “Haruskah?”

  1. Wahyu Says:

    Aneh juga melihat mulut-mulut mungil anak-anak kecil itu melafalkan lirik-lirik lagu orang dewasa. Tapi masalahnya industri lagu dengan target pasar anak kecilpun sudah langka zaman ini. Mo nyanyiin lagu anak kecil jadul?Gak seru juga, toh kita gak mungkin berjalan mundur khan?Tapi ngebayangin, mereka yang jadi juara trus nti mereka produksi lagu apa ya?lagu-lagu dengan lirik dewasa?
    Bagaimana cara menghentikannya menurut anda?
    Tanpa ada acara semacam itupun ,monster-monster kecil dah terciptakan melalui televisi, pergaulan,sistem pendidikan, dan mungkin juga dari keluarga sebagai sistem masyarakat terkecil?
    Klo mo menghentikan atau paling tidak mengurangi ya bentengi pasukan-pasukan kecil itu dari sistem masyarakat terkecil melalui keluarga or bikin acara tandingan yang lebih edukatif dan sesuai dengan proporsi usia mereka.
    Apa yang ada di benak anda?

Leave a Reply